Lynx melihat para wanita yang masih ketakutan, berjongkok di depan mereka dengan sikap bersahabat agar mereka merasa lebih tenang. "Di mana mereka sekarang?" tanyanya lembut, namun tetap penuh wibawa.

Wanita yang berbicara sebelumnya mengangkat tangan dengan gemetar, menunjuk ke arah selatan. "Mereka masih mencari kami. Kami tidak tahu harus pergi ke mana," jawabnya dengan suara bergetar, matanya melebar karena ketakutan.

Lynx mengangguk perlahan, senyumnya tipis namun menenangkan. "Tenanglah, kalian aman sekarang," katanya, suaranya penuh keyakinan. "Tetaplah di sini. Aku akan memastikan mereka tidak akan menyentuh kalian lagi."

Namun, salah satu wanita berbisik kepada temannya, suaranya mengandung ketakutan. "Kita tidak mengenalnya... Jangan-jangan dia juga bagian dari kawanan perampok," bisiknya dengan tubuh menggigil.

Bisikan itu menyebar dengan cepat, membuat para wanita lainnya kembali dicekam ketakutan. Mereka bergerak mundur perlahan, semakin ragu akan niat Lynx.

Lynx, yang memiliki pendengaran tajam, menangkap kata-kata mereka. Ia berdiri tegak, tetap tenang, lalu berbicara dengan nada lembut namun meyakinkan. "Jika aku berniat jahat, aku sudah berbuat kasar kepada kalian sejak tadi. Selain itu, lihatlah, aku tidak membawa senjata apa pun."

Para wanita memperhatikan Lynx dengan lebih saksama. Penampilannya yang sederhana, tanpa atribut mencolok, dan kulitnya yang cerah membuat mereka merasa sedikit lebih tenang. Namun, kekhawatiran masih terlihat jelas di wajah mereka.

"Kita tidak bisa mempercayainya begitu saja," kata salah seorang wanita, berusaha meyakinkan yang lain. "Bisa saja dia mata-mata perampok."

"Tapi dia tidak bersenjata," sela wanita lainnya. "Meskipun dia bukan orang jahat, lihatlah, dia tidak mungkin bisa menolong kita. Lebih baik kita pergi saja dari sini."

Lynx mendengar percakapan mereka tanpa terganggu. Ia tersenyum, tidak sedikit pun kehilangan ketenangannya. "Jika kalian tidak mempercayaiku, tidak apa-apa," ujarnya tenang. "Kalian bisa pergi. Tapi sebelum itu, tolong beri tahu aku arah dan lokasi kawanan perampok itu."

Salah satu wanita menunjuk lagi ke sebuah arah. "Kamu bisa menemukan mereka jika berjalan lurus ke sana. Seharusnya sebelum sore kamu sudah tiba di tempat mereka."

Lynx mengerutkan alis, terkejut mendengar informasi itu. "Tiba sebelum sore? Apakah ini perampok yang berbeda?" pikirnya. Sebelumnya, ia membutuhkan beberapa hari untuk mencapai tempat perampok yang dulu ia hancurkan bersama para tawanan, melewati bekas kampung Sinto dan Raksa.

Untuk memastikan, ia bertanya, "Aku pernah mendengar ada perampok yang dipimpin oleh Kronar. Apakah kalian tahu tentang itu?"

Wanita muda di antara mereka mengangguk dengan ketakutan. "Mereka memang anak buah Kronar. Saat kami bersembunyi, kami mendengar mereka berbicara. Kronar memerintahkan mereka untuk menangkap semua penduduk di pulau ini yang mereka temui. Mereka bahkan membangun banyak tempat tinggal untuk mempermudah mengumpulkan tawanan."

"Kronar..." Lynx menggertakkan giginya, geram mendengar nama itu lagi. Matanya menyala dengan tekad yang kuat. "Aku akan menghancurkan kalian semua," gumamnya, nadanya penuh dengan kemarahan yang tertahan.

Lynx menatap mereka semua, raut wajah mereka terlihat sangat ketakutan. "Kenapa kalian hanya berlima? Kemana yang lainnya?" tanyanya dengan nada penasaran.

Sebelum mereka menjawab, tiba-tiba terdengar suara tertawa di belakang Lynx. "Ternyata mereka semua ada di sini," kata salah satu perampok dengan nada mengejek.

Lynx menoleh dan melihat sekitar sepuluh orang perampok dengan tubuh besar, kulit hitam bertato. Di leher mereka terdapat kalung yang terbuat dari tulang hewan mutasi, dan mereka membawa beraneka ragam senjata, terutama kampak yang terbuat dari batu.

Melihat rombongan perampok yang datang, para wanita merinding ketakutan dan saling berpelukan, wajah mereka pucat pasi.

"Kalian mau lari ke mana sekarang?" tanya salah satu perampok yang terlihat seperti pimpinan rombongan tersebut, senyumnya lebar namun mengancam.

"Bruno, para wanita ini lumayan cantik. Bagaimana kalau kita nikmati terlebih dahulu sebelum kita serahkan?" kata salah satu perampok dengan nada menggoda.

Bruno, pimpinan rombongan, menganggukkan kepala setuju sambil tertawa, "Aku mau dia!" katanya sambil menunjuk seorang wanita.

Wanita yang ditunjuk oleh Bruno menangis ketakutan, semakin memeluk teman-temannya erat-erat.

"Bagaimana dengan pria ini?" tanya perampok satunya lagi, menatap Lynx dengan nada menantang.

"Tangkap dia sekalian. Tapi sebelumnya beri dulu dia pelajaran sebelum kita serahkan. Ingat, jangan sampai dia terluka parah agar tidak merepotkan kita membawanya, dan jangan sampai dia mati karena Monrest menginginkan darah pengorbanan sebanyak-banyaknya," kata Bruno, suaranya tegas.

"Kami mengerti," jawab rombongan perampok serentak, nada mereka menunjukkan kepatuhan.

"Baiklah, biar aku yang maju terlebih dahulu. Aku sudah ingin menghajar pria ini untuk melampiaskan kekesalanku karena dari tadi mencari para wanita ini," lanjut salah satu perampok dengan antusias, mengangkat senjatanya.

Lynx menatap tajam ke arah para perampok, hatinya bergejolak dengan kemarahan. "Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti siapapun lagi," ucapnya, suaranya tegas dan penuh keyakinan. Dengan diam-diam, ia mengaktifkan cincin penyimpanannya, mengambil pisau terbang yang sudah dia latih selama perjalanan. Lynx merasa senjata ini lebih tepat untuknya agar bisa menyerang dan menghabisi musuh-musuhnya dengan cepat.

Saat perampok itu melangkah mendekat, Lynx dengan cepat melemparkan senjatanya ke arah dahi perampok tersebut tanpa mereka sadari.

Bruno dan kawanan perampok lainnya tertawa saat melihat Lynx dan rekannya sama-sama diam tidak bergerak. Sementara para wanita yang posisi menghadap perampok itu, menutup mulut mereka karena kaget dengan yang mereka lihat.

"Hajar dia, beri dia pelajaran agar tahu siapa kita!" teriak salah satu perampok sambil tertawa.

"Patahkan kedua tangannya! Selama dia masih bisa berjalan dan bernyawa, kita masih bisa menyerahkannya ke Monrest," kata Bruno diiringi tawa kasarnya.

Tiba-tiba saja, mereka terdiam. Rekan di hadapan mereka terjatuh ke tanah dengan sebuah benda menancap di dahinya.

Bruno dan para perampok lainnya tampak terkejut, tidak menyangka rekannya akan mati secepat itu tanpa mereka ketahui bagaimana benda itu bisa menancap di dahinya.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak salah satu dari mereka, wajahnya berubah pucat kaget saat melihat rekannya tewas.

"Jika kalian ingin mencari mati, maka aku akan memberikannya kepada kalian," Lynx menantang, langkahnya mantap maju ke depan, menyiapkan dirinya untuk menghadapi musuh. Ia tahu, para perampok ini tidak bisa diberikan kesempatan karena kejahatan yang sudah mereka lakukan.

Salah satu perampok yang lebih besar melangkah maju dengan senjata kampak yang mengerikan. "Aku akan menghabisimu!" teriaknya marah sambil berlari menyerang Lynx.

Lynx memandang sekilas senjatanya yang masih menancap di dahi perampok yang terbunuh. "Ternyata merepotkan kalau menggunakan pisau terbang ini untuk membunuh. Aku harus mengambilnya lagi dan membersihkan," batinnya sambil menyimpan kembali pisau terbang lainnya yang ada di tangannya ke cincin penyimpanan.

Dengan kecepatan supernya, Lynx menghindar dari serangan itu dengan mudah. Ia melesat ke samping, membuat perampok itu kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, Lynx berpindah ke belakangnya dan memberikan tendangan yang kuat, membuat perampok itu terjatuh ke tanah dengan suara gemuruh.

Para wanita menatap dengan mata terbelalak, terpesona oleh kecepatan dan kekuatan Lynx. "Dia... dia sangat kuat," bisik salah satu dari mereka setelah melihat kemampuan Lynx.

Bruno, yang melihat bawahannya terjatuh, terpaksa mundur sejenak. "Jangan biarkan dia mengalahkan kita! Serang dia bersamaan!" perintahnya dengan suara marah.

Para perampok segera bergerak maju, berusaha mengepung Lynx dari berbagai arah. Namun, Lynx sudah bersiap. Dengan gerakan lincah, ia melompati mereka, menghindari serangan yang bersamaan. Setiap gerakannya seolah terencana, menciptakan kekacauan di antara para perampok yang berusaha menyergapnya.

"Saatnya menyusul teman kalian!" teriak Lynx, mengejek mereka sambil melompat dengan anggun, mengeluarkan sebuah pedang dari cincin penyimpanan dan menghabisi para perampok yang mengepungnya dengan cepat.

Para perampok terjatuh ke tanah tanpa menyadari apa yang telah membunuh mereka.

"Bagaimana mungkin bisa seperti itu?" teriak salah satu wanita dengan wajah tidak percaya.

"Lihat apa yang dipegangnya, senjata apa yang digunakan itu," kata yang lainnya dengan penuh ketakutan.

"Dia bukan manusia, tidak ada manusia yang bisa melakukan hal seperti itu," kata wanita lainnya.

Bruno, yang melihat semua rekan-rekannya tewas, menggigil ketakutan dan frustrasi. "Siapa kamu?" tanyanya gemetaran.

Lynx melangkah perlahan menuju ke arah Bruno dengan pedang di tangannya. "Antarkan aku ke sarang kalian jika kamu masih menginginkan nyawamu," katanya dengan perlahan dan tegas.

Bruno, yang ketakutan melihat kekuatan Lynx mampu menghabisi belasan anak buahnya dengan cepat, segera melempar senjatanya sebagai tanda menyerah dan menganggukkan kepala, mengangkat kedua tangannya. "Baik-baik, aku akan mengantarkanmu ke tempatku," katanya dengan cepat, nada ketakutan jelas terdengar.

"Aku tidak bisa menghadapinya sendirian. Biarkan pimpinan yang mengatasinya," batinnya di dalam hati.

